Kisah hiba nelayan Aceh selamatkan Rohingya di laut

HARAKAHDAILY | .

Nelayan-nelayan itu sedang mengecat kapal kayu di pinggir Pelabuhan Kuala Langsa, Kota Langsa, Aceh, saat kami menghampiri dan menyapa mereka. Sebahagian badan kapal berkapasiti 50 tan itu nampak brkilat. Kapal ikan sumber penghidupan mereka itu nampak baru kembali.

Seorang nelayan pertengahan umur sambil terus sibuk bekerja menanyakan identiti kami. Setelah bertanya khabar, Mohamad Adenan meminta kami naik ke atas kapal. Dengan hanya rasuk kayu, kami meniti ke atas kapal. Adenan yang mengetuai nelayan-nelayan lain itu berhenti bekerja dan menemui kami. Adenan juga menawarkan makan siangnya.

Namun dengan sopan kami mengatakan kami sudah makan tengah hari. Kami terkesan dengan keramahannya, yang menjadi salah satu watak positif orang Aceh.

Sebagaimana diberitakan, pada pagi Jumaat, 15 Mei lalu ada enam kapal nelayan Aceh yang menolong manusia dalam bot yang berasal Myanmar dan Bangladesh. Kapal Adenan adalah kapal yang mengangkut sisa pelarian, berjumlah 45 orang.

"Kami baru turun ke laut satu hari, ketika mencari orang-orang asing itu," ungkap Adenan dipetik laman web Eramuslim.com.

Biasanya kapal berada di laut 5 hingga 6 hari. Kapten kapal yang memimpin Muhammad Adenan dengan 40 anak kapal lain, memutuskan untuk memindahkan mereka. Keputusan dilakukan usai saling kenalan antara nelayan melalui radio, dan diminta saling merapatkan bot dan kapal.

"Kami ikut mendekat ke lokasi di mana orang-orang itu berada," tutur ayah dari enam anak ini.

Adenan berkata kapalnya adalah kapal terakhir yang mengangkut pelarian. "Lima kapal yang lain sudah di depan kami," tambahnya.

Ketika kapal nelayan dan pelarian saling merapat, beberapa pelarian terus terjun ke laut untuk menghampiri kapal Mohamad Adenan. Menurut penglihatan Adenan, ada juga perempuan yang nekad terjun berenang mendekati kapalnya. Jarak dua kapal kira-kira 30 hingga 40 meter.

Para pelarian itu berteriak-teriak, "Allahu kbar, Allahu akbar!"

Didorong rasa hiba, kapten kapal memerintahkan Mohamad Adenan dan kawan-kawannya agar lebih mendekati bot, untuk menghalang mereka terjun ke laut.

"Apabila kami menolong mereka, tak ada di hati kecuali rasa hiba. Saya membayangkan saat itu, seandainya mereka itu adalah kami, tentu kami saat itu akan sangat berharap pertolongan dari sesiapa," kata Adenan, yang selama lima hingga enam kali ke laut boleh mendapat upah 150-200 dari pemilik kapal.

"Apa salah mereka? Dan mengapa mereka seolah-olah tak boleh kita tolong? "jawab Adenan ketika ditanya keputusan mereka untuk melakukan tindakan menyelamatkan itu.

Usai kapal saling merapat, para pelarian itu berpindah kapal. Mereka langsung duduk di dek kapal, dan sebahagian, mungkin kerana keletihan, terus berbaring. Sebahagian laki-laki terlihat luka-luka yang masih setengah kering. Ada luka di lengan, punggung, kaki dan kepala.

Adenan berkata kerana masalah bahasa, ABK kapal tak banyak bercakap dengan pelarian.

"Yang kami lakukan segera mengeluarkan makanan dan air bekal kami mencari ikan untuk seminggu, yang masih banyak, kerana kami baru berada di atas laut sehari semalam," jelas Adenan.

Adenan mengaku makin tersentuh melihat para pelarian itu makan dengan lahap. Mereka sama sekali tidak mampu menyembunyikan rasa lapar dan dahaga.

"Bahkan semasa kami baru mahu selesai menaruh makanan ke pinggan, mereka terus menyambarnya," ungkap Adenan.

Bagaimana perasaan Adenan boleh membantu orang yang sedang sangat perlu pertolongan?

"Hati saya lega, boleh menolong orang kesusahan. Mereka berada di laut sama seperti kami. Mereka manusia sama seperti kami," kata Adenan.

Adenan dan kawan-kawannya menyatakan tidak menyesal, usai mendaratkan para pelarian itu, kapalnya sempat tertunda untuk turun ke laut semula dengan kelengkapan. Kesempatan itu digunakan untuk mengecat kapal milik ketuanya.

Share on Myspace